PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA Polisi Didesak Usut Perusak Pintu Keraton

Muhammad Khamdi

redaksi@koran-o.com

SOLO—Polisi didesak mengusut kasus perusakan pintu gerbang Sasana Putra, kompleks Keraton Solo, Senin (26/8) lalu. Desakan ini disuarakan Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) Solo.

Mereka menilai perusakan pintu Keraton yang berada di kawasan cagar budaya dapat dikategorikan melanggar Undang-undang (UU) No. 11/2010 tentang Cagar Budaya.

“Kami ketahui bahwa perusakan pintu yang ditabrak mobil tidak dibenarkan. Aparat kepolisian yang berada di sana kenapa tinggal diam? Seharusnya pelakunya ditindak tegas,” tegas Presidium KPCBN, Agus Anwari, kepada Koran O, Rabu (28/8).

Menurutnya, semua harus berpikir dingin dalam menyelesaikan persoalan perusakan salah satu pintu Keraton Solo. Terlepas dari ontran-ontran antar kerabat Keraton, kata Agus, polisi tidak boleh membiarkan atas tindakan perusakan tersebut.

“Tanggapan saya terlepas dari kemelut Keraton saat ini. Siapa pun itu, dari kubu yang melakukan perusakan benda cagar tetap harus diproses hukum. Kami tidak bermaksud apa-apa, kami menegakkan UU No. 11/2010 tentang Cagar Budaya. Jika tidak diproses pelakunya, ini dapat mencederai Undang-undang Cagar Budaya,” tegas Agus.

Agus juga tidak sepakat apabila tindakan perusakan atas suruhan Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi menjadi pembenaran dengan dalih force majeure atau kondisi terdesak atau terpaksa. Dirinya yakin ada jalan keluar selain dengan perusakan pintu tersebut. “Meskipun itu perintah langsung Sinuhun, ya tidak dibenarkan. Kami sangat menyayangkan dan pemaksaan kehendak dari kelompok tertentu yang berujung kekisruhan. Polisi juga harus menindak tegas tanpa pandang bulu,” kata dia.

Wakil Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Solo, K.R.M.H Satryo Hadinagoro, mengatakan perusakan salah satu pintu Keraton Solo dapat dikategorikan merusak benda cagar budaya. “Pemkot sendiri sudah memasang benda cagar budaya di kawasan Keraton. Harapan kami, siapa pun yang salah harus diproses hukum. Jangan menghalalkan cara seperti itu. Kami tidak perlu melaporkan, semua sudah pada tahu. Dan inilah ujian bagi Pemkot dan aparat penegak hukum. Apakah cagar budaya akan dilindungi atau tidak,” jelas Satryo.

Seperti diketahui, perusakan pintu Sasana Putra Keraton Solo terjadi pada Senin (26/8) pukul 19.50 WIB. Perusakan menggunakan mobil jip berwarna putih. Belakangan diketahui, perusakan pintu yang dilakukan warga Baluwarti atas perintah Raja Keraton Solo, Paku Buwono (PB) XIII, Hangabehi.

Terpisah, Pemkot Solo melalui Kabid Cagar Budaya Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo, Mufti Rahardjo, kepada Koran O di Balai Kota, Rabu (28/8), mengaku belum bisa menyikapi pendobrakan pintu Sasana Putra. Pihaknya memilih cooling down hingga persoalan di keraton sedikit mereda. “Bukannya kami tak peduli dengan perlindungan cagar budaya, tapi saat ini kan masih sensitif. Tunggu kondisinya baik dulu,” elak Mufti.

“Kami masih menunggu arahan Pak Wali (Wali Kota, F.X. Hadi Rudyatmo) terkait kondisi ini,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Widdi Srihanto, memastikan dana hibah keraton Rp300 juta tetap bisa dicairkan meski konflik kembali memanas. (Chrisna Chanis Cara)

 

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *