Mari Tertib Berlalu Lintas

Beberapa hari lalu, Walikota Solo dan Kapolresta Solo menandatangani nota kesepahaman ihwal penerapan larangan pelajar tak punya surat izin mengemudi (SIM) bersepeda motor ke sekolah. Nota kesepahaman itu juga mencakup penerapan sanksi dan pembinaan bagi pelajar yang bersepeda motor ke sekolah tanpa SIM.
Nota kesepahaman ini dimaksudkan untuk membudayakan tertib berlalu lintas kepada para siswa sekolah dan orangtua siswa. Menurut data Polresta Solo, terjadi rata-rata 200 pelanggaran aturan berlalu lintas setiap hari di Kota Solo. Kami sepakat dengan misi membudayakan tertib berlalu lintas. Ditinjau dari sisi regulasi, siapa pun yang tidak memiliki SIM memang tak boleh mengendarai kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor.
Terkait dengan nota kesepahaman ini, perlu dipikirkan kepentingan para pelajar agar tetap lancar saat berangkat dan pulang sekolah. Khusus terkait fasilitas angkutan umum, pemerintah harus segera membenahi angkutan umum sehingga memperlancar pergerakan para pelajar saat berangkat dan pulang sekolah. Larangan yang memang secara normatif diatur hukum positif ini hendaknya ”tak asal melarang” tapi harus solutif.
Pemerintah Kota Solo harus menyiapkan sarana transportasi yang mampu ”me­nggantikan” peran sepeda motor yang biasa mereka bawa. Sebagian pelajar yang nekat membawa sepeda motor tanpa SIM ke sekolah mungkin karena kondisi. Bisa jadi karena orangtua memang tidak bisa mengantar anak mereka ke sekolah atau lantaran angkutan umum tidak menjangkau daerah tempat tinggal mereka. Pertimbangan lainnya: faktor ekonomi. Naik sepeda motor ke sekolah lebih murah ketimbang naik angkutan umum.
Upaya membudayakan tertib berlalu lintas tak hanya dilakukan dengan membuat larangan semacam itu, tetapi juga penegakan hukum serta membangun kesadaran diri. Pengguna jalan yang sudah mengantongi SIM belum tentu sepenuhnya patuh pada aturan lalu lintas. Perlu kesadaran dan pemahaman masyarakat bahwa jalan raya bukan milik perorangan atau kelompok tertentu. Setiap pengguna jalan harus saling menghormati dan tidak egois, apalagi ugal-ugalan.
Budaya tertib berlalu lintas akan sulit terwujud bila hanya dilakukan dengan melarang pelajar--yang belum memiliki SIM--bersepeda motor ke sekolah. Budaya tertib berlalu lintas akan terwujud bila pengguna jalan menaati aturan, punya toleransi dan tidak semaunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>