Dikenal Dekat dengan Ibunda PB XII

Tak banyak yang tahu Suripno pernah menjadi salah satu abdi dalem Keraton Kasunanan. Itu karena sikapnya yang memilih hidup di jalanan.
Kecintaan Suripno pada Keraton tidak pernah diragukan, setidaknya bagi beberapa orang dekat almarhum PB XII. Tiga puluh tujuh tahun masa pengabdiannya sebagai abdi dalem bisa menjadi bukti. Oleh kalangan keluarga Keraton Kasunanan, ayah lima anak ini pernah dikenal sebagai abdi dalem senior.
Selama menjadi abdi dalem Suripno sangat jarang pulang ke rumah. Dia lebih memilih tinggal di dalam Keraton meskipun gaji bulanannya tidak seberapa. “Orang yang tidak tahu menganggapnya hanya tukang sapu. Padahal dia itu abdi dalem yang setia. Pengabdiannya sudah kelihatan dari lamanya dia di Keraton. Dia dulu sangat dekat dengan Mbah, ibu dari Paku Buwono XII,” ungkap putra Sri Susuhunan Paku Buwono XII, GPH Dipokusumo, Selasa (27/2).
Kedekatan Suripno dengan keluarga PB XII bukan hanya soal hubungan emosional. Semua itu berawal saat PB XII membutuhkan seseorang yang bisa nembang di dalam Pringgitan. “Saat itu PB XII memerintahkan saya untuk mencari siapa yang bisa,” ujar Dipo.
Dari sinilah muncul nama Suripno yang dikenal memiliki kemampuan nembang yang baik. Sejak itu Suripno menjadi penembang yang rutin mengisi ruangan itu dengan suaranya.
Kemampuan nembang pula yang membuat Suripno dikenal. Dia juga dikenal menguasai pengetahuan tentang seluk beluk budaya Jawa dan sejarah, termasuk sejarah kerajaan-kerajaan di seluruh Pulau Jawa. Hingga pada suatu hari tiga tahun lalu, tibalah masanya dia keluar dari lingkungan Keraton.
Suripno sendiri menyebut dirinya memang sengaja keluar dan melepaskan statusnya sebagai abdi dalem Keraton. “Saya tahu tidak akan ada uang pensiun di sana, jadi saya memilih keluar sebagai orang bebas,” kata Suripno.
Kesalahan Kecil
Namun menurut penuturan Tumini, istrinya, keluarnya Suripno dari Keraton bukan disebabkan oleh keinginannya sendiri. “Entah kenapa dia tidak diterima lagi di keraton hanya karena sebuah kesalahan kecil,” ungkap Tumini.
Tumini enggan merinci kesalahan tersebut. Namun menurut seorang sumber yang dekat dengan Suripno, dia keluar dari Keraton setelah membaca tembang macapat untuk seseorang di luar Keraton. Padahal dengan nembang macapat seperti itu, Suripno bisa membawa tambahan uang buat istri dan anaknya.
GPH Dipokusumo sendiri mengaku tidak tahu mengapa Suripno bisa dikeluarkan. “Saya sendiri tidak tahu, tahu-tahu dia sudah tidak berada di Keraton lagi,” ungkap Dipo.
Bentuk lain dari loyalitasnya terhadap keraton sampai saat ini adalah tetap bertahan untuk tidak jauh-jauh dari tembok Baluwarti. Siang hari dia di pinggir jalur Supit Urang dan malam hari dia tidur di emper timur Pasar Klewer. Kadang-kadang dia merebahkan diri di bawah gerbang utara tembok Baluwarti untuk melepas lelah. Sayangnya hal  ini dinilai mengganggu ketertiban oleh petugas yang kebetulan lewat. “Dia pernah diusir oleh penjaga di sana, termasuk petugas Satpol PP,” keluh Tumini.
Tumini sendiri sebenarnya lebih suka kalau suaminya itu mau tinggal di rumah. Sayangnya Suripno menolaknya karena dia masih ingin mencari nafkah dengan kemampuannya menulis aksara Jawa dan membuat wayang tripleks. Dia lebih suka hidup dengan caranya sendiri karena menyukai kebebasan. (Adib Muttaqin Asfar/JIBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>