Gunakan Listrik dan Air Seperlunya

Eni Widiastuti
eni.widiastuti@solopos.com

Hemat pangkal kaya. Demikian ungkapan yang sering terdengar untuk menyampaikan betapa pentingnya hidup hemat. Tak terkecuali dalam penggunaan listrik, air dan pulsa.
Seorang ibu rumah tangga asal Mojosongo, Solo, Ratmi, 55, mengungkapkan ia termasuk orang yang sangat berhemat. Ia selalu menggunakan listrik dan air seperlunya. Jika malam hari, lampu yang dinyalakan hanya lampu yang ada di kamarnya.
Lampu di tempat lain seperti ruang tamu, dapur dan lainnya, sengaja dimatikan. “Barang-barang elektronik yang tidak dipakai, saya matikan. Tujuannya agar penggunaan listrik lebih hemat,” jelasnya saat ditemui Koran O di sela-sela aktivitasnya melayani para pembeli sayuran, Jumat (20/9).
Sayangnya, kata Ratmi, prinsip berhemat itu belum diterapkan seluruh anggota keluarganya. Tak jarang ketika Ratmi sudah tidur terlebih dahulu, beberapa lampu di rumahnya dibiarkan menyala hingga pagi hari. Tak jarang televisi juga terus menyala hingga pagi hari. “Kebiasaan sebagian anak saya yang kadang membuat bayaran listrik naik,” ujarnya.
Sebagai ibu, katanya, ia sering mengingatkan buah hatinya. Namun peringatan itu seolah hanya didengar dan tidak dilaksanakan. Dibandingkan beberapa tahun silam ketika anak-anaknya masih tinggal serumah semua dengan Ratmi, pengeluaran listrik dan air keluarga Ratmi kini relatif lebih rendah. “Sebagian anak-anak saya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. Jadi lumayan mengurangi penggunaan listrik dan air,” jelasnya.
Siasat
Tak jauh beda, seorang kepala keluarga asal Nusukan, Solo, Rudi Wahyudi, mengungkapkan selama ini ia dan istrinya menerapkan prinsip hemat dalam kehidupan sehari-hari. Selain hemat dalam menggunakan pulsa, Rudi dan istrinya juga berusaha hemat dalam menggunakan listrik dan air. “Istri saya sengaja menyetrika baju hanya empat hari sekali. Tujuannya untuk menghemat listrik. Ketika menggunakan air juga hanya seperlunya saja,” jelasnya.
Menurut Rudi, kebiasaan berhemat sangat membantunya untuk menyiasati banyaknya kebutuhan rumah tangga, sementara penghasilan keluarga terbatas. “Kalau tidak hemat, gaji saya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *