Bedakan antara Kebutuhan dan Keinginan

Perbedaan pendapat antara suami dan istri sebenarnya wajar terjadi. Namun bagaimana cara menyikapi perbedaan pendapat itu, sangat tergantung kepada kesiapan kedua belah pihak ketika akan menikah.
Hal itu disampaikan konsultan pernikahan dari Griya Konsultasi Sehati, Kleco, Solo, Farida Nur’aini. Ia mengungkapkan jika seseorang menikah karena dilandasi ilmu dan pemahaman, ia akan lebih siap menghadapi segala problematika pernikahan. Tapi jika seseorang menikah karena emosional, misalnya karena merasa sudah jatuh cinta, ia biasanya tidak siap menghadapi masalah yang muncul dalam perjalanan rumah tangga. “Jangankan dua orang yang berasal dari keluarga berbeda, satu keluarga saja bisa beda pendapat,” ujarnya saat ditemui Koran O di ruang kerjanya, Kamis (18/4).
Ketika terjadi perbedaan pendapat, ungkapnya, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu berusaha menguasai diri agar lebih terkontrol dan tidak egois. Setiap orang harus memahami bahwa pendapatnya belum tentu benar. Dalam konteks berumah tangga, masing-masing pihak harus berusaha mengedepankan upaya menjaga keharmonisan keluarga. “Ketika beda pendapat, lalu salah satu pihak memilih untuk mengalah, belum tentu pihak yang mengalah itu kalah ­atau salah. Tapi karena pola pikirnya yang dewasa, orang tersebut memilih untuk meredam egoisme pribadinya,” jelasnya.
Sepasang suami istri, ungkapnya, hendaknya menguasai ilmu manajemen konflik. Masing-masing harus bisa membedakan antara hal penting dan sepele. “Misalnya suami suka klub sepak bola A, si istri suka klub sepak bola B. Hal itu bukan hal penting untuk diperdebatkan."
Jika terjadi perbedaan pendapat dalam alokasi keuangan keluarga, kata Farida, sebaiknya suami istri mencoba membuat skala prioritas, membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika sifatnya kebutuhan, harus didahulukan daripada upaya memenuhi keinginan.
“Misalnya si istri ingin membeli tas baru yang bermerek, padahal tas lama masih ada. Kalau seperti ini berarti sifatnya keinginan dan pemenuhannya bisa ditunda,” katanya. (Eni Widiastuti)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>