RESENSI FILM De Niro vs Travolta di Killing Season

Kenekatan penampilan duo aktor gaek, Robert De Niro dan John Travolta, beradu akting di satu layar yang ‘dicueki’ publik mengulik tanya di sebagian benak penonton. Film Killing Season yang ditayangkan di bioskop Tanah Air, Kamis (1/8) ini, oleh beberapa situs review film rata-rata hanya mendapatkan respons nilai satu dari skala lima.

Di Studio 3 XXI Solo Square pun, sambutannya tak kalah lesu. Dari sekitar 200 kursi yang tersedia, hanya seperempat yang terisi. Pendapat dari sejumlah kritikus film tak juga menggembirakan. Todd Jorgenson dari Cinemalogue.com menulis film ini memberikan ketegangan ringan tetapi gagal menghasilkan wawasan trauma pascaperang.

Killing Season dibuka dengan adegan eksekusi kelompok militan Serbia oleh serombongan tentara asal Amerika Serikat di perbukitan Malanca, Bosnia. Dari belasan militan Serbia yang dieksekusi dengan cara ditembak di bagian tengkuk kepalanya, Emil Kovac (John Travolta) luput dari maut. Setelah 18 tahun menanti saat yang tepat, Emil berniat menuntut balas eksekutornya  dengan bekal dokumen rahasia dari NATO.

Sang eksekutor yang kini tengah menikmati masa purna tugas, Benjamin Ford (Robert De Niro), tinggal menyendiri di Pegunungan Appalachia, Amerika Utara, yang tenang. Ben menghabiskan masa tuanya dengan berburu gambar bermodalkan kamera manual miliknya.

Sutradara Mark Steven Johnson menggambarkan pertarungan satu lawan satu antara dua mantan ser­dadu ini sebagai sebuah drama. Tensi penonton dibuat naik turun dengan lambat. Sebelum mencapai klimaks ketegangan, sutradara memotongnya dengan penggambaran adegan penyiksaan yang ditampilkan sangat meyakinkan.

Darah di kaki Ben tampak mengalir deras saat dirinya berusaha mencabut mata anak panah yang bersarang di paha kanannya. Pun demikian dengan adegan saat kedua pipi Emil ditembus mata anak panah. Adegan yang sengaja dibuat dalam gerakan lambat seolah ingin menampilkan kepiawaian Hollywood membuat efek spesial.

Terlepas dari sejumlah kritik yang menyoal penggarapan naskah film ini, penonton selama hampir satu setengah jam bakal disuguhi pemandangan alam pegunungan Amerika Utara yang cantik. Permainan watak dua aktor kawak ini pun nyaris tanpa cela. Namun esensi film  ini lagi-lagi menampilkan klise, perang tak menyisakan apapun selain kepedihan dan trauma mendalam bagi yang menyaksikan. (Mahardini Nur Afifah)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *