Petirtaan Kali Kunti Sendang Tujuh Terabaikan

Farida Trisnaningtyas JIBI/SOLOPOS

Di bawah pepohonan rindang dan belum terjamah tangan jahil itulah mengalir sumber-sumber air yang biasa disebut sendang tujuh. Sendang peninggalan zaman Kerajaan Mataram Hindu itu tepatnya terletak di Dukuh Cabean Kunti, Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo. Sendang Pitu atau Sumur Pitu lebih dikenal dengan nama Candi Petirtaan Kali Kunti Sendang Pitu. Sebutan Sendang Pitu karena jumlah mata air yang ditemukan ada di tempat itu sebanyak tujuh. “Sebenarnya ada sembilan sumber mata air atau sendang. Namun, warga baru menemukan tujuh,” tutur Nur Arifin, petugas pembinaan teknis pemeliharaan benda cagar budaya BP3 Jateng, akhir pekan lalu. Nur bercerita situs itu merupakan peninggalan zaman Mataram Hindu pada masa peralihan abad VI ke abad VII. Konon, kompleks candi Petirtaan Kali Kunti Sendang Pitu masih satu rangkaian dengan Candi Lawang di Desa Sumbung, dan Candi Sari di Desa Jombong, Cepogo. Ketiganya dibangun pada masa pemerintahan Ratu Dyah Wawa Wangsa Syailendra. Namun, peninggalan sejarah yang sangat berharga itu belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah. Bangunan yang termasuk dalam benda cagar budaya tersebut masih dalam taraf pemeliharaan belum pemanfaatan. Hingga saat ini masih banyak pengunjung yang datang untuk kepentingan ritual ke tujuh sendang. Ketujuh sendang itu antara lain, Jangkung, Pertapan Sidotopo, Palereban, Kaprawiran, Panguripan, Keputren dan Semboja. Sedangkan dua sendang lain baru ditemukan sekitar tahun 2004 lalu yaitu sendang Balong dan Sendang Kedung Mayit. Dua sendang itu 90% bangunannya masih terpendam di dalam tanah. “Sudah sejak lama situs sendang tujuh ini tidak terawat dengan baik. Banyak bebatuan yang rusak. Bahkan, tak sedikit yang hilang entah kemana. Meskipun demikian, masyarakat setempat masih tetap merawat ala kadarnya dengan menggelar ritual setiap Selasa Kliwon,” imbuhnya. Camat Cepogo, Siti Askariyah pun mengatakan jauh sebelum Paku Buwana X memerintah, situs itu telah ada. Menurutnya, jika dilihat dari bangunan yang masih tersisa, sangat kental berbau kepercayaan animisme dan dinamisme.

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *