Suara Keras Tak Menjamin Murai Batu Juara

Murai batu pada dasarnya merupakan burung petarung yang memesona saat berada di arena lomba. Banyak hal yang harus dimiliki burung lincah ini agar menjadi sang juara, mulai dari irama, volume suara, hingga gayanya saat berlaga. Pehobi murai batu, Tri Supriyono menjelaskan, irama lagu merupakan suatu bunyi yang dihasilkan burung dengan alunan nada dan tempo ketukan yang teratur dan serasi. Irama itu meliputi kombinasi naik turunnya nada, kombinasi panjang pendeknya nada dan permainan irama yang menjadi harmoni sehingga enak didengar. “Murai batu yang iramanya bervariasi, dengan isian yang sesuai dengan nada, dan tidak terpotong-potong akan membentuk keserasian bunyi yang harmonis. Di samping itu, burung yang rajin melantunkan irama-irama lagu memukau saat lomba, akan menjadi primadona di mata dewan juri,” ujarnya saat ditemui Harian Jogja Express, di Jl. Pramuka, Giwangan, Umbulharjo, Jogja, Jumat (3/2). Volume di sini bukan hanya kerasnya suara burung, tetapi lebih menitikberatkan kepada kualitasnya. Volume suara yang paling keras tak menjamin seekor burung juara, tetapi harus ada unsurunsur lainnya seperti kemerduan suara, tidak cempreng, suaranya bersih, dan lantang. Tri menambahkan, meski murai batu rata-rata memiliki suara dasar yang besar (ngebas) dan keras, namun burung ini terkenal pintar menirukan suara burung lain. Tak hanya suara burung bermata hitam ini saja yang menjadi unggulan saat lomba, juga kemampuan berjogetnya. Gerakan jogetnya dengan membuka tutup ekor putihnya seperti kipas namun dengan gerakan yang dinamis serta cepat. Namun tidak semua murai batu memiliki sifat dan mampu berkipas seperti itu. Murai batu yang mampu berkipas adalah yang memiliki mental petarung yang baik. “Murai batu memainkan ekor putihnya saat emosinya mulai terpancing. Saat mendekati puncak kemarahannya mendengar atau melihat musuhnya, biasanya akan diikuti dengan kicauan dan memainkan ekornya naik turun diikuti dengan membusungkan dadanya sehingga terkesan gagah,” Pungkasnya. Kharisma Ayu Febriana JIBI/Harian Jogja Express

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *