Komunitas Wanita Mekar Terinspirasi Spirit RA Kartini
Tak selamanya wanita yang berkumpul hanya berujung pada kegiatan mengocok arisan. Paling tidak hal itulah yang ditunjukkan Komunitas Wanita Mekar. Komunitas yang terinspirasi dari spirit RA Kartini justru tumbuh menjadi sebuah komunitas yang menghadirkan kreativitas dan kemandirian para anggotanya. Ketua Komunitas Wanita Mekar, Yani Ambar menjelaskan awal terbentuknya komunitas ini berawal dari hobi kumpul di sebuah sanggar. Mereka menggelar berbagai kegiatan seperti merangkai bunga dan pelatihan memasak. Akhirnya pada 29 April 2011 kelompok hobi itu mulai diresmikan menjadi sebuah komunitas. “Komunitas ini tak ada batasan ataupun syarat khusus, semua wanita dapat menjadi anggota. Ibu rumah tangga, pengawai negeri, hingga pengusaha boleh gabung,” ungkapnya saat ditemui Harian Jogja Express di Resto Bale Ayu, Jl. Ipda Tut Harsono, Timoho, Jogja, Rabu (9/10). Yani menambahkan, nama Komunitas Wanita Mekar ini memiliki arti pada setiap hurufnya. Huruf pertama M pada kata Mekar berarti mandiri yang artinya wanita harus mandiri dan berusaha. E yang artinya Etika, menjelaskan wanita juga menjunjung tinggi etika budaya bangsa. K yang berarti Kreatif , A yang berarti antisipatif, dan R berarti Rajin. Komunitas ini menjadi wadah bagi para perempuan untuk mengembangkan keterampilan, mendidik menjadi wanita yang mandiri, dan kreatif. Berbagai kegiatan dilakukan hampir setiap bulannya, mulai dari merangkai bunga, lomba memasak, belajar menggambar di atas objek, hingga seminar tentang menjadi master of ceremony (MC). “Kegiatan yang kami adakan gratis. Jika ingin mengundang tentor, seperti pengisi acara justru dari anggota sendiri atau rekan kami yang telah memiliki keahlian tersebut,” ungkapnya. Komunitas yang awalnya hanya beranggotakan sembilan orang dan kini telah mencapai 135 orang ini. Meski hanya dari mulut ke mulut namun dalam waktu kurang dari satu tahun komunitas ini bisa tumbuh pesat. “Kegiatan yang dilakukan dalam komunitas ini tidak hanya acara resmi. Rasa kekeluargaan juga coba kami bangun. Ketika berkumpul di sangggar, anggota secara sukarela ada yang membawa kue atau makanan untuk dimakan bersama. Dari situlah rasa kebersamaan itu tumbuh,” ujarnya. Eksistensi komunitas ini juga terlihat dengan adanya koordinator di setiap kabupaten. Dengan begitu setiap kabupaten memiliki koordinasi yang baik untuk memberikan informasi seputar jadwal perkumpulan yang nantinya akan mereka adakan. “Untuk tahun ke-2 komunitas kami berencana membuat kartu anggota, hal ini bertujuan untuk lebih memudahkan mengenal anggota. Jumlah anggota kami semakin bertambah. Dengan kartu ini nantinya misalkan ada anggota yang makan di restoran anggota lain, akan mendapat potongan harga,” ungkapnya. Komunitas yang berlandaskan semangat RA Kartini ini berharap dapat memperluas anggota hingga ke berbagai daerah di Indonesia. “Untuk tahun berikutnya komunitas kami berencana membuka cabang di Sukoharjo dan Blora. Kebetulan ada rekan kami yang ingin bekerja sama untuk sama-sama mengembangkan komunitas perempuan ini,” pungkasnya. Kharisma Ayu Febriana/JIBI/Harian Jogja Express
Dalam Ragam | Tags




