Budi Daya Perkutut Tak Sulit

Kharisma Ayu Febriana WARTAWAN HARIAN JOGJA EXPRESS

Membudidayakan perkutut sebenarnya cukup mudah, namun kebanyakan orang belum paham menjalankan hobi yang satu ini. Giyanto, yang awalnya hanya hobi memelihara dan menjual perkutut, lama-kelamaan justru jatuh hati membudidayakan burung ini. Menurut dia, secara teknis beternak perkutut terbilang mudah. “Hal pertama yang harus diperhatikan adalah mempersiapkan sangkar. Sangkarnya seukuran kandang soliter saja sebenarnya cukup untuk mengawinkan perkutut,” ujarnya saat ditemui Harian Jogja Express, di PASTY, Dongkelan, Mantrijeron, Jogja, Jumat (20/1). Pehobi perkutut ini menambahkan, kelebihan perkutut terutama karena mudah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru di dalam sangkar. Di samping itu, perkutut tidak gampang stres, sehingga jarang terkena penyakit. Agar hasil anakan sesuai harapan, ada baiknya lebih dulu mempelajari teknik perkawi n a n . Yang terpenting adalah memilih indukan yang siap untuk dikawinkan. Hal ini dapat diamati dengan mendengar ocehannya. “Jika usia perkutut telah satu tahun dan burung ini sering manggung dan bunyinya mempeng [tanpa henti], terlebih jika melihat perkutut jenis lain, ini pertanda perkutut siap dikembangbiakkan,” ujarnya. Butuh waktu paling tidak dua minggu untuk masa kawinnya. Biasanya burung ini akan menghasilkan dua butir telur. Perkutut juga merupakan jenis burung yang setia, karena selama masa mengerami, jantan dan betina saling bergantian. “Masa pengeraman hingga telur menetas membutuhkan 18 hari. Jika betina sedang makan, pengeraman digantikan perkutut jantan, begitu juga sebaliknya,” jelasnya. Telur perkutut jika dieram sempurna, dengan suhu kandang yang hangat dan terhindar dari hewan pemangsa seperti, semut atau serangga, biasanya menetas semua. Setelah telur menetas, induk akan merawat anaknya dengan baik dan membatu anaknya makan dengan cara melolohkan makanannya. Hal itu tidak berlangsung lama, dalam waktu satu bulan biasanya anak perkutut telah dapat makan sendiri dan dapat dipisah dengan induknya. “Burung ini termasuk jenis burung yang cukup produktif, karena dalam satu tahun dapat bertelur hingga enam kali, sehingga paling tidak setiap 40 hari sekali burung ini selalu bertelur dan selalu merawat telur-telurnya dengan baik,”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>