Kisah Fatima Penderita Tumor Selaput Otak Aku Sering Kejang dan Sakit Luar Biasa

Fatimah, 39, warga Dusun Ngino XII, Desa Margo-agung, Kecamatan Seyegan, Sleman, merasakan derita mendera hidupnya. Fatimah tersiksa oleh tumor selaput otak (minimingiota) yang menyerangnya sejak tiga tahun lalu.
Perempuan itu telah menjalani operasi pengangkatan tumornya. Namun, derita belum berakhir. Fatimah masih sering mengalami kejang-kejang. Meski begitu, Fatimah tidak menyerah untuk bisa sembuh. Dia pun tak hanya berpangku tangan, dia tetap bekerja menjemput rezeki.
Ditemui Harian Jogja di rumahnya pada Kamis (8/3), Fatimah menceritakan sepenggal bagian perjalanan hidupnya. Menurutnya, penyakit yang itu mulai dirasakan sejak Januari 2009. Kala itu, ia tidur malam seperti biasanya dan terbangun pukul 04.00 WIB. Saat terbangun itu tubuh Fatimah tiba-tiba kejang.
“Saya mengalami kejang dari kaki sampai kepala. Saya merasa seperti masuk ke suatu lorong yang mengerikan. Mungkin seperti itu rasanya orang mau mati. Saya juga merasa seperti masuk pusaran air yang deras sekali. Waktu itu saya enggak sadar,” kata ibu tiga anak ini.
Setelah mengalami kejang selama beberapa menit, Fatimah lemas dan terlelap. Dia mengaku tenaganya seperti hilang. “Sebelum kejadian itu saya merasa sehat-sehat saja. Tidak ada gejala atau tanda-tanda yang ganjil. Semua itu terjadi tiba-tiba,” kata Fatimah.
Kala itu ia menduga mengalami keracunan. Sehari sebelumnya ia sempat memasak sayur dengan teri. Setelah kejangnya sembuh, Fatimah tidak memeriksakan diri ke dokter karena merasa sudah sehat.
Hari-hari berikutnya dilalui se-perti biasa. Fatimah kembali bekerja dan beraktivitas. Namun, enam bulan kemudian, Fatimah mengalami kejang-kejang yang lebih hebat daripada yang pertama. Saat itu dia sedang hamil tiga bulan.
“Peristiwanya persis sama. Badan sakit semua. Tenaga habis. Lalu dibawa ke Rumah Sakit At-Turots di Seyegan. Kata dokter, saya kekurangan garam dan dikasih obat gastritis (perada-ngan selaput lendir lambung). Kandungan saya enggak apa-apa, sehat” kata Fatimah.
“Saya dirawat inap selama tiga hari. Setelah keluar dari rumah sakit sempat sehat, tapi satu bulan kemudian kejang lagi. Masuk RS At-Turots lagi. Rasanya lemas dan kehabisan tenaga,” kata Fatimah.
Kala itu, ujarnya, dia didiagnosa mengalami epilepsi (ayan) atau gangguan syaraf yang membuat penderitanya kejang-kejang. Namun anehnya, kata Fatimah, tidak banyak cairan yang keluar dari mulut. Fatimah disarankan memeriksakan diri ke dokter syaraf.
“Saya lalu ke Rumah Sakit Murangan, Sleman. Saya mengonsumsi obat hingga menjelang kelahiran anak saya. Waktu itu dokternya bilang, kok sudah diobati masih kejang. Saya lalu menjalani CT-Scan di RS,” katanya.
Menurut Fatimah, dari hasil CT-Scan diketahui bahwa telah tumbuh tumor di dekat selaput otak dan mendesak pembuluh darahnya. Apabila tumor itu mendesak maka dapat menyebabkan kejang-kejang dan kesakitan. “Saat itu saya menjadi sering kejang. Dalam sehari bisa sampai 10 kali. Saya terus mengonsumsi obat,” kata Fatimah.
Merasa Sehat
Dia mengaku dapat merasakan tanda-tanda sebelum mengalami kejang. Suatu ketika seorang tetangganya meninggal. Fatimah menjadi penerima tamu pelayat yang datang ke rumah tetangga itu. Saat itu ia merasa sehat. Namun, kemudian dia merasakan hendak kejang lalu pamit pulang. “Saya ambil posisi tiduran kalau mau kejang,” kata Fatimah.
Pada Maret 2009, Fatimah dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito, bukan untuk mengobati kanker selaput otak melainkan persalinan anak ketiganya.
“Saya menjalani operasi caesar. Setelah melahirkan, tiga bulan kemudian saya daftar di RS Sardjito untuk operasi tumor,” kata Fatimah.
Pada Juni 2009, Fatimah menjalani operasi pengangkatan tumor. Dia mengatakan pembuluh darahnya sempat teriris dan mengalami pendarahan. Menurut Fatimah, berdasarkan keterangan dokter, otaknya membengkak. Akibatnya, tempurung kepala belum bisa dipasang. Sambil menunggu kempes, tempurung kepala itu disimpan di dalam perut. Fatimah tidak merasa sakit untuk hal ini.
Seusai keluar dari rumah sakit, Fatimah merasakan sakit yang luar biasa di bagian tengkuk. “Setiap malamnya saya gulung koming kesakitan. Saking menahan sakit omongan saya sering terbalik-balik, hingga membuat bingung orang lain,” kata Fatimah.
Dia lalu pergi ke RS Sardjito mengikuti CT-Scan. Terlihat ada darah di kepala bagian belakang. Fatimah perlu mengikuti ope-rasi selanjutnya. Dua bulan kemudian, dia dioperasi di PKU untuk mengembalikan tempurung kepala yang disimpan di dalam perut.
“Sampai sekarang masih sering kejang. Tapi tidak seperti dulu. Terakhir kali kejang Desember 2011 lalu, sehari bisa tiga kali. Dalam sebulan kejang sampai lima kali. Dulu kejang sehari bisa sampai 10 kali,” kenang Fatimah.  Yodie Hardiyan JIBI/Harian Jogja

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *