Love Bird Blorok Masih Bikin Penasaran

Di kalangan penggemar burung dengan warna eksotis, love bird masih sangat populer. Love bird bukan sekadar dicari kicauannya, tapi juga warna-warna hasil persilangan dan mutasi yang sangat beragam. Dari sekian banyak pola warna yang populer, blorok adalah yang paling dicari.
Popularitas love bird blorok sebenarnya sudah lumayan lama, yaitu sejak empat hingga lima tahun lalu. Di pasaran, harga seekor blorok memang paling tinggi dibandingkan sesama love bird eksotis lainnya. Love bird lutino yang dulu dikenal sebagai yang paling mahal, kini harganya bisa terpaut Rp1 juta di bawah blorok. Hal itu pula yang membuat sejumlah penangkar burung kembali kesengsem untuk menghasilkan love bird blorok.
“Saya sedang mencoba beternak love bird, tapi enggak sembarangan. Saya ingin menghasilkan blorok,” kata Rizka Arif, penangkar asal Kartasura, awal Agustus lalu.
Rizka sebenarnya bukan penangkar love bird, melainkan penangkar kenari yang dikenal cukup luas sebagai pencetak kenari lagu. Meskipun masih konsen dengan kenari-kenari lagunya, dia mengungkapkan keinginannya untuk mencoba blorok. Menurutnya ini cukup menantang.
Warna blorok pada love bird memang tidak seperti blorok pada ayam yang sering muncul tanpa sengaja. Blorok ayam cenderung rapat di hampir seluruh bulu. Sedangkan pada love bird, blorok biasanya hanya muncul pada bulu sayap dan punggung. Nah, tantangan besar bagi penangkar adalah bagaimana menghasilkan warna yang jarang muncul pada anakan love bird. Blorok diakui lebih sulit ditemukan dari pada albino atau mata merah.
“Blorok itu kan berasal dari luar Indonesia dan sudah sejak lama. Di Indonesia baru empat tahunan dan masih jarang ditemukan,” kata Nosi Janto, penangkar love bird asal Debegan, Mojosongo, Solo, Jumat (24/8) lalu.
Kesulitan karena blorok bukan seperti sifat-sifat resesif atau mutan. Jika sifat resesif seperti albino bisa didapatkan dengan mengawinkan sesama love bird berdarah albino, maka tidak dengan blorok. Blorok adalah perpaduan sifat dari dua gen berbeda yang disilangkan dan sama muncul pada seekor love bird.
Gara-gara sulitnya mendapatkan love bird blorok tersebut, banyak tangan nakal yang mencoba mengambil untung. Sejak 2011 lalu muncul berbagai keluhan adanya love bird blorok palsu. Love bird ini sekilas mirip blorok asli, bahkan harganya pun sama dengan blorok asli. Biasanya ini adalah love bird biasa yang dicat beberapa bagian sehingga seperti blorok.
Saking miripnya, banyak orang yang tidak bisa membedakan. “Kita harus hati-hati kalau mau beli blorok. Bahkan dulu ada juga pedagang yang tertipu,” kata Joko Widodo, pedagang burung di Pasar Depok, Jumat lalu.
Namun untuk mencegah penipuan, Joko punya trik singkat saat melihat seekor love bird blorok. Patokan utamanya adalah love bird blorok biasanya punya kaki dengan warna yang intermediate. “Jadi lihat saja warna kakinya, jangan pilih yang warna kakinya terlalu gelap atau hitam.” (adib.muttaqin@solopos.com)Adib Muttaqin Asfar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>